HTML/Java Script

Kaarmany eva dhikaras te, ma phalesu kada ca na, ma kaarma phala hetur bur, ma te sango 'stva akaarmany

Sabtu, 09 Februari 2013

Naskah Dharma Wacana Agama Hindu : Sejarah Singkat Hari Raya Nyepi dan Rangkaiannya

Sejarah Singkat Hari Raya Nyepi dan Rangkaiannya
Oleh : I Made Sri Wirdiata


Om Avighnam astu namah sidham,
Om Siddhir astu tad astu svaha,
Om Svastyastu,

Umat se-dharma yang berbahagia,
Nikmatnya hari-hari yang kita lalui tiada lain adalah merupakan waranugraha, nikmat limpahan kasih dari Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Untuk itu sepatutnyalah kita haturkan angayubaghia kehadapan Beliau beserta segala manifestasi-Nya. Bahwa sebagai mahluk yang bermartabat, kita harus senantiasa berterima kasih.

Pada hari yang baik ini, berbahagia sekali kita bisa berada di tempat yang indah dan sejuk ini dalam rangka kita sama-sama melaksanakan kegiatan bimbingan, penyuluhan bagi masyarakat Banjar Budhi Sari, Desa Sekongkang, Kecamatan Poto Tano, Kab. Sumbawa Barat.

Topik kali ini mengenai Rangkaian Hari Raya Nyepi. Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa hari raya Nyepi merupakan hari raya berdasarkan sasih. Hari raya yang berdasarkan sasih lainnya ialah Siwaratri. Bagaimana rangkaian hari raya Nyepi dan bagaimana sejarah singkat dan rangkaiannya? Akan saya sampaikan dalam kesempatan yang berbahagian ini.

Umat se-dharma yang saya hormati,
Hari Nyepi merupakan tonggak kebangkitan kerohanian Hindu yang ditandai dengan Toleransi dan Kerukunan. Bermula dari persaingan dan pertikaian bangsa-bangsa di kawasan Asia (sekarang antara: Tibet, Asia Tengah, Persia, Sungai Sindhu, Afganistan, Pakistan, Kashmir, Iran dan India Barat laut) antara bangsa Saka (Scythia) – Pahlava (Parthia)– Yueh-ci (Cina) – Yavana (Yunani) – Malava (India). Mereka sangat berambisi salin menaklukkan satu sama lain sebagai musuh-musuhnya. Selama berabad-abad bangsa-bangsa tadi silih berganti saling menguasai wilayah lawan-lawannya (semacam penguasaan/ penjajahan) memperebutkan daerah yang sangat subur. Akhirnya pada awal tahun 248 SM di India bangsa Pahlava unggul dalam peperangan melawan bangsa Yavana dan Saka serta menguasai wilayah yang sangat luas.

Bangsa Saka yang kalah perang mengembara dan mampu secara cepat menyesuaikan diri dan tersebar di seluruh kawasan, namun membawa satu misi kooperatif perdamaian dengan mengedepankan aspek budaya dan humanisme. Bangsa Saka dengan seni budaya dan kombinasi ketata negaraan yang terbuka (ala demokrasi sekarang) mampu menyentuh penguasa yakni Bangsa Pahlava. Artinya bangsa Pahlava mengakui keunggulan bangsa Saka yang mengalihkan perjuangan politiknya dari mengangkat senjata (peperangan) menjadi arah politik : ideology, sosial-budaya yang bercirikan keharmonisan – perdamaian dengan mengangkat kesejahteraan sebagai issue global. Pergerakan humanisme sejak tahun 138 – 12 SM terjadi akulturasi dan sinkretisme antara bangsa-bangsa yang tadinya bermusuhan dan berakhir pada peperangan menuju perdamaian.

Akibat gerakan kemanusiaan membuat sikap politik bangsa-bangsa tadi berubah menjadi gerakan Lokasamgraha (dunia ini rumah kita, persaudaraan semesta, Torang samua basudara). Terdapat tokoh raja Kaniska I, II dan III (tidak semuanya berasal dari bangsa Saka tapi mereka mengadopsi perjuangan bangsa Saka) dalam percaturan politik yang meraih simpati rakyat dengan gerakan kesejahteraan dan kemanusiaan tadi. Salah satu yang terkenal kemudian adalah raja Kaniska II yang pada tahun 78 Masehi menetapkan tahun baru sebagai pencerahan bangsa-bangsa yang berdamai dengan memberikan penghargaan kepada bangsa Saka yang memelopori pergerakan tadi menjadi Tahun Baru Saka yang diperingati secara serentak oleh seluruh negeri. Tahun itu dikemudian hari menjadi tahun pencerahan dan dirayakan dengan khidmat melalui tapa – brata – samadhi.

Umat se-dharma yang berbahagia,
Perayaan Hari suci Nyepi di daerah secara otonom dilaksanakan dari tingkat Provinsi sampai tingkat Desa dan perorangan di rumah masing-masing dengan rangkaian sebagai berikut :
1. Melasti/Makiyis : adalah prosesi spiritual keagamaan sebagai upaya penyucian alam semesta dari segala kekotoran dan kejahatan akibat dari perputaran karma selama 1 tahun yang penuh dengan intrik, gejolak, nafsu, dan berbagai sisi negative terhadap kemanusiaan. Penyucian ini tidak berhenti pada tataran alam semesta, tetapi juga pada diri setiap manusia Hindu, harus menyucikan diri dan lingkungannya. Arah prosesi penyucian itu ditujukan kea rah laut/segara, karena diyakini air bersumber di laut dan air merupakan sumber dari kehidupan. 80 % tubuh kita ini terdiri dari air. Pelaksanaan prosesi ini dilaksanakan sejak seminggu sebelum hari raya nyepi atau maksimal 2 hari sebelum Nyepi. Di dalam Lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan: angayutaken laraning jagat, paklesa letuhing bhuvana, yang terjemahannya: untuk melenyapkan penderitaan masyarakat dan kotoran dunia ( alam ), sedangkan di dalam lontar Sundarigama dinyataan : amet sarining amrtha kamandalu ritelenging samudra, yang terjemahannya : Untuk memperoleh air suci kehidupan di tengah – tengah lautan. Laut sebagai sumber amerta karena laut/segara dipercaya dan diyakini mampu melebur segala kekotoran yang diakibatkan oleh api nafsu manusia yang berupa tindakan kotor/jahat dll.

2. Tawur Kesanga : adalah upacara Bhuta Yajna, artinya korban suci yang ditujukan kepada penguasa kekuatan yang memberi kemanfaatan bagi seisi alam raya ini berupa Caru. Caru adalah kata bahasa Sanskerta yang berarti mempercantik, menetralisir, memiliki makna spiritual somya yakni membuat semuanya menjadi harmonis. Caru ini berupa sesajen yang dibuat sedemikian rupa dalam rangkaian yang memiliki perhitungan magis, oleh Pendeta dijadikan sebagai sarana untuk menjadikan situasi krodit/disharmoni menjadi normal/harmonis kembali. Tawur kesanga dilaksanakan sehari sebelum Nyepi tepatnya pada bulan Mati/Tilem sasih Kesanga.

3. Nyepi – Brata Penyepian : Dilaksanakan perayaannya pada tanggal apisan sasih kedasa(sehari setelah Tilem Kesanga. Nyepi dilaksanakan dengan berpuasa dan berpantang/brata. Dimulai pagi hari jam 06.00. Di antara berbagai bentuk Tapa, Brata, Yoga, Samadi itu, Maunabrata (Monabrata) adalah yang tertinggi, tujuannya adalah amatitis kasunyatan, menuju keheningan sejatai seperti pula disebutkan di dalam lontar Sundarigama (salah satu lontar yang menjelaskan tentang hari-hari raya Hindu di Indonesia) secara tegas menyatakan: "..................Nyepi amatigni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, agnigni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang weruh ring tattwa angelaraken samadhi. tapa, yoga amatitis kasunyatan" - Hari Nyepi, tidak benar semua orang melakukan pekerjaan, berapi - api, karena mereka yang tahu hakekat agama melaksanakan samadhi,tapa,yoga memusatkan pikiran menuju kesunyataan/keheningan sejati". Brata Penyepian, dengan amati : gni, karya, lelungan, lelangunan, membuat hidup ini terintrospeksi secara sadar atas apa dan siapa diri ini untuk menuju arah yang ditentukan oleh ajaran agama. Selama 1 hari penuh (24 jam) aktivitas direorientasi guna memberikan pembaharuan (Reneweble) alam semesta sehingga segenap potensinya kembali berfungsi secara maksimal. Bayangkan kota kota besar jika selama 1 hari tidak ditebari polutan asap kendaraan (polusi udara) dan listrik dipadamkan, aktivitas diliburkan sehari itu saja dalam setahun, berapa besar penghematan yang telah dilakukan oleh Negara, betapa bersihnya udara Jdan kelesuan dapat dipulihkan.

Saat Brata Penyepian secara tradisional ada 4 pantangan (catur braata penyepian), yaitu Amati Gni, artinya tidak menyelakan api, baik api secara fisik maupun api dalam diri/emosi; Amati Karya, artinya tidak melakukan aktivitas bekerja seperti sehari hari, melainkan melakukan introspeksi diri atau mulatsarira, seraya menggungkan kebesaran Ida Sang Hyang Widhi; Amati lelungan, artinya tidak bepergian, baik tubuh yang pergi maupun pikiran yang liar harus dikendalikan, fokus mengagungkanNya; dan Amati Lelanguan, artinya tidak menikmati hiburan.

4. Ngembak Gni : melakukan aktivitas kembali seperti semula atau membuka api kehidupan normal. Pada hari ini tgl 17 Maret 2010 menjadi lembaran baru bagi kehidupan yang cerah penuh pencerahan rohani. Ngembak Gni mengisyaratkan kepada manusia yang "Multikultural" untuk bersatu padu, menghargai perbedaan sebagai kebenaran illahi, memaafkan adalah perbuatan mulia yang akan membuat hidup kita terasa lebih damai. Melayani mereka yang lemah, membantu mereka yang menderita adalah karma utama saat ini, karena sesungguhnya melayani semua mahluk dengan cinta kasih, dan kasih sayang adalah bentuk pemujaan kepada Tuhan (serve to all man kind is serve to the God).

Demikian paparan materi Dharma Tula dalam kegiatan penyuluhan kali ini, terima kasih atas perhatiannya.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Note : Isi dari naskah ini diambil dari berbagai sumber

Senin, 04 Juni 2012

Naskah Dharma Wacana Agama Hindu : Indahnya Aneka Jalan Bhakti Dalam hindu

INDAHNYA ANEKA RAGAM JALAN BHAKTI DALAM HINDU
Oleh: I Made Sri Wirdiata


Om Awighnam astu namah sidham,
Om Swastyastu,

Umat sedharma yang saya hormati,
Nikmatnya hari-hari yang kita lalui tiada lain adalah merupakan anugrah limpahan kasih dari Ida Sang Hyang Widhi. Untuk itu sepatutnyalah kita haturkan puji syukur kehadapan Beliau beserta segala manifestasi-Nya. Bahwa sebagai mahluk yang bermartabat, kita harus selalu berterima kasih.

Umat sedharma yang berbahagia,
Keseharian kita dalam lingkungan terkecil kita yaitu keluarga yang biasanya dimulai dari bangun tidur, ada berbagai hal yang berbeda yang kita jumpai. Perbedaan itu antara lain dari sisi aktivitas yang dikerjakan setelah bangun tidur, maupun kebiasaan-kebiasaan cara kita bangun. Tapi, kita sadari bahwa semua perbedaan itu tetap dalam koridor saling melengkapi aktivitas satu dan lainnya, memperkuat kehidupan keluarga kita.

Lingkungan yang lebih luas pun yaitu dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya masyarakat umat beragama Hindu sudah barang tentu sangat lumrah bila ada beraneka macam perbedaan. Perbedaan itu biasanya terdapat dalam tataran pelaksanaan ritual/upacara, dan pelaksanaan etika/susila, namun yang pasti ketika ditinjau dari sisi filsafat/tattwa, disana ada suatu substansi yang sama, ada dharma yang sama yang menjadi spirit dari pelaksanaan ritual dan etika yang berbeda-beda itu.

Atas adanya perbedaan-perbedaan yang ada dalam ajaran agama Hindu itu tidak jarang menimbulkan adanya perbedaan persepsi yang sering berujung pada perpecahan umat. Seperti adanya saling kecam antar tradisi yang satu dengan lainnya, saling klaim kebenaran tradisi antara kelompok masyarakat yanag satu dengan lainnya. Padahal kita masih sama-sama Hindu. Contoh, berbeda cara melafalkan suatu mantra saja terkadang menimbulkan suatu pertikaian, ini biasanya terjadi pada umat Hindu di daerah yang tingkat pendidikannya masih rendah, namun tidak jarang juga justru umat Hindu di kota yang notabene pendidikannya tinggi sering terjebak dalam kasus seperti itu.

Perbedaan, atau keanekaragaman, atau pluralisme itu adalah suatu keniscayaan. Bukankah agama Hindu mengajarkan konsep rwa bhineda? Dua hal yang selalu berbeda. Juga ada konsep desa, kala, patra, (tempat, waktu, kondisi) yang sering kita gaungkan, yang mana secara prinsip merupakan pengakuan terhadap kearifan lokal atau local genius dari tradisi Hindu. Secara substansi desa, kala, dan patra tersebut memiliki semangat atau nilai filosofi yang sama, kebenaran yang sama, yaitu dharma.

Catur warna, adalah salah satu bentuk pluralisme tatanan masyarakat dalam Hindu, konsep catur warna yang dipahami secara benar justru akan dapat memperkuat tatanan kehidupan bermasyarakat dalam Hindu. Hal lainnya yang juga merupakan kebenaran mengenai pluralisme dalam Hindu adalah tentang konsep atau cara kita menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Kuasa (Brahman).

Umat sedharma yang saya hormati,
Hindu mengajarkan ada empat jalan untuk menghubungkan diri dengan-Nya. Empat jalan itu disebut catur marga yoga. Bagian dari catur marga yoga yaitu bhakti marga yoga, karma marga yoga, jnana marga yoga, dan raja marga yoga. bhakti marga yoga yaitu cara menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Brahman) melalui jalan bhakti, yaitu cinta kasih, pelayanan tulus iklas kepada-Nya. Selanjutnya karma marga yoga yaitu cara menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Brahman) melalui jalan bekerja tanpa pamrih, bekerja demi kewajiban bukan demi hasil, dengan kata lain melepaskan diri dari ikatan hasil. Jnana marga yoga yaitu cara menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Brahman) melalui jalan ilmu pengetahuan, melalui jalan peningkatan kesadaran spiritual. Sedangkan raja marga yoga yaitu cara menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Brahman) melalui jalan semadhi, meditasi, atau melaksanakan sadhana/latihan spiritual tertentu.

Lalu manakah dari keempat jalan itu yang paling benar? Jawabannya adalah semua benar, semua sah, semua dapat dilaksanakan karena semua itu ada atas kehendak-Nya. Bukankah segala sesuatu yang terjadi itu atas kehendak Hyang Widhi? Termasuk kebenaran mengenai jalan untuk menghubungkan diri dengan-Nya. Lalu apa yang menyebabkan pilihan jalan kita berbeda antara yang satu dengan yang lainnya? Perbedaan itu tergantung dari tingkat kesadaran rohani atau spiritual kita, yang ditentukan oleh karma vasana kita masing-masing. Dalam pertemuan kali ini kita akan membahas tentang aneka ragam atau pluralisme jalan bhakti yang ada di dalam Hindu.

Umat sedharma yang saya hormati,
Bhakti adalah wujud cinta kasih, penyerahan diri, sujud kehadapan Hyang Widhi/Brahman. Kitab Bhagavata Purana atau Srimad Bhagavatam, menyebutkan 9 jenis cara mewujudkan rasa bhakti kita kehadapan Brahman, yang disebut dengan Nava laksana bhakti. Nava laksana bhakti terdiri dari: Sravanam; yakni mempelajari keagungan Tuhan Yang Maha Pengasih/Hyang Widhi melalui pembacaan kitab-kitab suci. Kirtanam; mengucapkan/menyanyikan nama-nama Hyang Widhi, Smaranam; mengingat nama-Nya atau bermeditasi tentang-Nya, padasevanam; melakukan pelayanan kepada Hyang Widhi termasuk melayani atau menolong berbagai mahluk ciptaan-Nya, arcanam; memuja keagungan-Nya umumnya dengan sarana arca dan persembahan bunga serta buah-buahan, dasya; melayani-Nya dalam pengertian mau melayani mereka yang memerlukan pertolongan dengan penuh keikhlasan, sakhya, memandang Hyang Widhi sebagai sahabat sejati yang selalu memberikan pertolongan, dan atmanivedanam, penyerahan diri secara total kepada-Nya.

Berbagai bentuk bhakti tersebut dalam Hindu adalah benar. Semua jalan tersebut merupakan jalan yang diciptakan oleh Hyang Widhi. Apapun jalan yang kita tempuh pasti akan sampai kepada Beliau, asal dilakoni dengan kesungguhan, keyakinan dan tulus tanpa ego. Pustaka suci kita Bhagavadgita Bab IV sloka 11 menjamin sebagai berikut:

Ye yathaa maam prapadyante taamstathaiva bhajaamyaham; Mama vartmaanuvartante manushyaah paartha sarvashah.
Artinya:
Bagaimana pun (jalan) manusia mendekatiKu, Aku terima, wahai Arjuna. Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan.

Umat sedharma yang berbahagia,
Dalam konsep jalan bhakti di atas, kita diberikan kebebasan untuk memilih jalan mana yang kita sukai dan mampu untuk dilaksanakan. Namun apa yang terjadi belakangan ini? Banyak dari kita yang saling cela dalam melaksanakan sradha (keyakinan) dan bhakti kita. Saling jatuhkan. Menganggap bahwa cara yang dilakukan oleh dirinyalah yang paling benar. Harus kita sadari bersama bahwa musuh dari bhakti adalah ego. Bagaimana mungkin kita mengklaim diri sebagai orang yang memiliki sradha bila kita masih egois, dan memonopoli Tuhan? Orang yang memiliki sradha dapat memahami pemujaan Hyang Widhi dari berbagai jalan.

Perbedaan bukanlah suatu masalah, yang menjadi masalah adalah salah menyikapi perbedaan. Seperti halnya taman bunga, akan tampak lebih indah dan enak dipandang karena terdiri dari berbagai jenis bunga. Demikian pula halnya dengan sebuah bangunan yang kokoh. Bukankah kokohnya bangunan tersebut karena perbedaan bahan penyusunnya? Pasir, batu bata, semen, besi, kapur dll. Satu pun dari bahan bangunan tersebut tidak ada yang ingin selalu paling menonjol. Bayangkan bila besi, batu bata atau yang lainnya selalu ingin terlihat menonjol, maka selain tidak indah dipandang, bangunan tersebut juga tidak akan kuat. Ia akan rapuh.

Demikian halnya dengan kita sebagai umat Hindu, berbagai cara di atas diciptakan untuk kita laksanakan sesuai dengan pilihan dan kemampuan, dan tingkat kesadaran spiritual kita. Jangan karena perbedaan chanda atau aturan pengucapan mantra membuat kita saling kecam, jangan karena ada yang tetap memilih cara tradisional Indonesia khususnya secara tradisi Bali, justru mengecam umat Hindu lainnya yang memilih cara Kejawen, Sunda, Dayak, Toraja, termasuk yang memilih cara bhajan, kirtan, dan cara lainnya. Jangan karena upakara atau sarana sesajen/bebanten tidak mengikuti daerah tertentu lalu upakara tersebut disalahkan, dikecam.

Umat sedharma yang berbahagia yang saya muliakan,
Kita yang sama-sama baru belajar agama “kemarin sore” marilah kita tidak mencari-cari perbedaan, mari kita cari persamaan. Sekali lagi, perbedaan itu bukanlah masalah, yang menjadi masalah adalah salah menyikapi perbedaan itu. Tingkat pendidikan umat lain telah maju, mari kita hentikan berkutat mengenai masalah pilihan pribadi setiap umat Hindu dalam menghubungkan diri dengan Tuhan. Tuhan saja tidak protes kepada kita mengenai Dia didekati dengan cara apapun, dari jalan manapun.

Mari kita berkutat bagaimana meningkatkan mutu pendidikan bagi generasi muda Hindu, bagi anak-anak kita, mari kita berkutat bagaimana meningkatkan ekonomi umat, meningkatkan tingkat kesehatan umat. Jika kita terus-terusan ribut tentang hal upacara, maka oleh “musuh” kita akan semakin dipecah belah, kita tercerai berai maka kita akan diinjak-injak. Di dunia barat telah berhasil membuat pesawat canggih, perumahan canggih, sistem pendidikan dan kesehatan canggih, bahkan mereka menerapkan beraneka ragam jalan spiritual Hindu, jalan dharma, tapi justru kita disini masih saja ribut-ribut masalah pelaksanaan ritual/upacara yang berbeda yang justru tidak salah tapi kita persalahkan, kita permasalahkan. Bukan tidak boleh dibahas, tapi tidak cukup urgen dan kurang memberi manfaat bagi kemaslahatan umat. Justru semakin membuat terpecah. Jadi, umat Hindu kondisinya terpuruk bukan karena kehebatan orang lain atau “musuh” yang ingin menghancurkan keberadaan kita, tapi kita seperti ini karena kelemahan kita sendiri. Suatu pasukan perang menjadi kuat karena adanya perbedaan jenis senjata yang digunakan, ada bermacam-macam pilihan senjata. Mari dalam perbedaan jalan kita menghubungkan diri dengan Brahman kita kuatkan posisi Hindu. Justru dalam perbedaan itulah kita temukan, kita jumpai, kita dapatkan pilihan aneka jalan bhakti yang indah dalam Hindu. Semua itu milik kita. Semua itu satu Hindu. Semua itu adalah sanatana dharma.

Demikian dharma wacana ini semoga dapat memberi manfaat bagi kita semua.

Om, A no badrah kratavo yanthu visvatah, Om ksama sampurna ya namah svaha.
Om Santih, Santih, Santih, Om.